Monday, November 12, 2007

Kalau Kamu meliput dengan Tentara Koalisi, Kamu Yang Jadi Target Kami

"Kalau kamu ikut meliput dengan kami, kamu yang menjadi target utama pasukan koalisi. Begitu juga ketika kamu meliput dengan tentara koalisi, kamu yang menjadi target utama kami."

Itu adalah kalimat dikatakan oleh seorang Rois tentara Mujahidin Irak pada Meutya Hafid, reporter Metro TV tersebut ketika dia, Budiyanto (kameramen Metro TV), dan Ibrahim (supir yang mereka sewa) berada dalam tawanan mereka selama 168 jam. Pada saat itu Meutya Hafid mencoba peruntungannya dengan mencoba menawarkan untuk memberikan pemberitaan berimbang tentang perang antara mereka dan tentara koalisi yang mereka anggap sebagai penjajah.

Ketika itu sebuah gambaran yang baru tentang kondisi perang yang sesungguhnya terlintas di benak Meutya. Perang informasi, walaupun bukan barang baru bagi seorang jurnalis seperti Meutya. Seringkali dia tidak menyadari betapa pentingnya hal tersebut bagi pihak-pihak yang bertentangan terutama di saat perang, sampai mereka menjadi para jurnalis sebagai sasaran tembak utama mereka. Dan kesulitan yang dihadapi jurnalis untuk untuk mempertahankan independensi mereka.

Pada saat itu dia ditunjukkan kepingan-kepingan VCD yang ditunjukkan oleh para pejuang Mujahidin untuk memberikan gambaran pada masyarakat Irak dan dunia bahwa mereka cukup kuat untuk melakukan perlawanan terhadap tentara koalisi serta untuk tujuan apa mereka berjuang. Ketika itu pun ia teringat wartawan-wartawan dari negara Barat yang melakukan peliputan dengan menggunakan seragam tentara dan memegang senjata, bukan hanya di perang Irak tetapi juga di perang-perang sebelumnya. Yang membuat seakan-akan para tentara tersebut adalah pejuang kebenaran dan pahlawan perang.

"Detik itu juga, gugur semua haknya sebagai jurnalis yang dilindungi oleh konferensi Jenewa.", itulah yang ada didalam pikiran seorang Meutya Hafid.

(Kutipan-kutipan tersebut diambil dari buku "168 Jam Dalam Sandera: Memoar Jurnalis Indonesia Yang Disandera di Irak" yang ditulis oleh Meutya Hafid.)




Friday, November 09, 2007

Pilihan hidup

ada yang bilang kita punya hak untuk memilih jalan hidup masing-masing.

Ada yang bilang kalau pilihan hidupku adalah milikku sendiri.

Ada yang bilang kalau di zaman ini kita sudah tidak punya hak untuk memilih kehidupan, hanya ada hak untuk bertahan hidup.

ada yang bilang ketika kita memilih sebuah jalan hidup, kitapun memilih jalan hidup orang-orang terdekat di sekitar kita.

Ada yang bilang sudah memang tidak ada yang namanya pilihan hidup, karena hidup itu memang sudah digariskan dari sananya. Bagaimana kita hidup dan mati.

Ada yang bilang pula kalau pilihan hidup yang kita buat disertai pula oleh tanggung jawab dan pengorbanan yang harus kita lakukan.

Bagaimana dengan pilihan hidupmu?